TANJUNGPINANG (HAKA) – Sekretaris Disnakertrans Kepri, John Barus, mengungkapkan tugas berat pemerintah saat ini.
“Anak lulusan SMK memang bisa ngelas teralis. Padahal industri galangan kapal butuh kualifikasi tinggi seperti 3GW, 4GW, atau 6GW,” ujar John.
Bahkan, kebutuhan spesifik pengelasan bawah laut membutuhkan kualifikasi 9GW. Pekerja wajib memiliki sertifikat menyelam untuk posisi tersebut.
“Kesenjangan skill ini membuat lulusan lokal sulit menembus posisi strategis,” ungkapnya.
John menekankan pentingnya evaluasi serius terkait link and match. Evaluasi melibatkan Dinas Pendidikan dan dunia industri.
Ia berharap pihak terkait menyesuaikan kurikulum SMK dengan kebutuhan pasar kerja. Penyesuaian khususnya di daerah industri seperti Batam.
“Seharusnya sekolah mempersiapkan mereka untuk kualifikasi 3G atau 6G,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyarankan pihak sekolah melakukan pemetaan minat siswa. Pemetaan berlangsung sejak kelas 2 SMA atau SMK.
Tujuannya agar siswa yang memilih langsung bekerja bisa mendapatkan kualifikasi tepat sebelum lulus.
“Idealnya pihak sekolah memetakan sejak kelas 2. Siswa mau kuliah atau kerja?” pungkasnya. (sih)





