27.6 C
Tanjung Pinang
Rabu, Oktober 14, 2026
spot_img

Di Balik Ketergantungan UMKM pada Air Tanah

TANJUNGPINANG (HAKA) – Setengah isi sumur galian sedalam tiga meter menjadi batas aman bagi Mak Nah setiap hari.

Dari sumber air sederhana itu, ia mencuci empat hingga lima mobil pelanggan, membersihkan sepeda motor, sekaligus memenuhi kebutuhan kedai kopi di area usahanya.

Saat debit turun, tangki penampung menjadi cadangan agar aktivitas bisnis tetap berjalan.
Mak Nah bukan satu-satunya pelaku usaha yang memilih cara tersebut.

Pengelola laundry, kedai kopi, depot air minum, hingga usaha kecil lainnya ikut mengandalkan sumur galian ketika jaringan air perpipaan belum menjangkau kebutuhan mereka.

Di tengah pengawasan pemanfaatan air tanah, Mak Nah justru menolak sumur bor karena ingin membatasi pengambilan air dan menjaga kebutuhan warga sekitar.

Keterbatasan sumber air baku dan perluasan jaringan perpipaan membuat pemerintah menyiapkan interkoneksi Waduk Kawal menuju jaringan distribusi.

Bagaimana, pelaku UMKM harus mengatur setiap tetes air agar usaha tetap berdenyut, baca selengkapnya DI SINI.

Penulis : Dimas Bona Pratama

Baca Juga:  Dekrafest Kepri 2026, Stan Dekranasda Bintan Dinobatkan jadi yang Terbaik
spot_img

Berita Lainnya

- Iklan -spot_img
Seedbacklink

Berita Terbaru