TANJUNGPINANG (HAKA) – Setengah isi sumur galian sedalam tiga meter menjadi batas aman bagi Mak Nah setiap hari.
Dari sumber air sederhana itu, ia mencuci empat hingga lima mobil pelanggan, membersihkan sepeda motor, sekaligus memenuhi kebutuhan kedai kopi di area usahanya.
Saat debit turun, tangki penampung menjadi cadangan agar aktivitas bisnis tetap berjalan.
Mak Nah bukan satu-satunya pelaku usaha yang memilih cara tersebut.
Pengelola laundry, kedai kopi, depot air minum, hingga usaha kecil lainnya ikut mengandalkan sumur galian ketika jaringan air perpipaan belum menjangkau kebutuhan mereka.
Di tengah pengawasan pemanfaatan air tanah, Mak Nah justru menolak sumur bor karena ingin membatasi pengambilan air dan menjaga kebutuhan warga sekitar.
Keterbatasan sumber air baku dan perluasan jaringan perpipaan membuat pemerintah menyiapkan interkoneksi Waduk Kawal menuju jaringan distribusi.
Bagaimana, pelaku UMKM harus mengatur setiap tetes air agar usaha tetap berdenyut, baca selengkapnya DI SINI.
Penulis : Dimas Bona Pratama




