​​BINTAN (HAKA) – Ribuan warga di Desa Dendun, Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan, mulai kesulitan mengakses air bersih yang layak konsumsi.
​Kepala Desa (Kades) Dendun, Eva Riana menyampaikan, bahwa musim kemarau yang melanda wilayah tersebut selalu mengubah air sumur menjadi asin.
​”Kalau musim kemarau, kami agak susah air karena air sumur berubah rasa menjadi asin,” ujar Eva kepada hariankepri.com, Jumat (24/4/2026).
​Eva menjelaskan, saat ini 1.162 jiwa penduduk Desa Dendun hanya mengandalkan air dari 8 sumur yang tersedia. Namun, air di 3 sumur di antaranya kini terasa asin.
​Kandungan besi yang cukup tinggi pada tanah di lokasi sumur bor juga memperparah kondisi ini, sehingga satu-satunya sumur bor tersebut tidak berfungsi maksimal.
​”Jadi warga hanya mengandalkan sumur yang masih menghasilkan air bagus,” jelasnya.
​Imbasnya, warga harus mengantre selama 24 jam secara bergantian untuk mendapatkan air demi kebutuhan minum, mandi, dan cuci.
​”Warga harus mengantre karena mereka juga menggunakan sumur berair bagus untuk mandi dan cuci,” tuturnya.
​Untuk memenuhi kebutuhan air minum, sebagian warga membeli air galon seharga Rp8.000 hingga Rp10.000 per galon.
Sementara itu, warga lainnya tetap memakai air sumur dengan menyaringnya secara tradisional.
​”Ada warga yang membeli galon, ada yang tetap mengambil air di sumur. Meski air mengandung besi,” tambahnya.
​Mengenai bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan, Eva mengaku kendala transportasi menghambat masuknya bantuan air bersih ke wilayahnya.
​Posisi Desa Dendun yang berada di tengah laut dan terpisah dari daratan utama kecamatan menyulitkan mobilisasi bantuan air bersih melalui mobil tangki.
​”Mobilisasi ke wilayah pesisir kami sangat sulit dan jauh,” pungkasnya. (sih)





