PAGI belum sepenuhnya benderang di sudut Kota Tanjungpinang. Di bawah sebuah gubuk reot tepi parit, gemericik air menjadi suara yang menemani keluarga Syafri Effendi memulai kehidupan
Di atas tanah yang labil, berdiri bangunan yang lebih tepat bernama kotak tripleks ketimbang rumah. Di dalam ruang sempit itu, tempat tidur, dapur, dan ruang tamu menyatu tanpa sekat.
Kondisi kehidupan mereka sangat memprihatinkan. Mereka menumpang di atas tanah yang bukan milik sendiri, lalu mendirikan bangunan liar di pinggir jalan demi memayungi keluarga kecil tersebut.
Di tempat itu pula, Syafri membuka usaha bengkel tambal ban kecil-kecilan untuk menyambung hidup. ​Lelaki keturunan Minang ini, sebenarnya telah menekuni dunia perbengkelan selama 21 tahun.
Syafri menyimpan kisah masa lalu yang kontras. Ia pernah mengecap masa jaya, sebelum akhirnya badai kebangkrutan menghantam usahanya pada tahun 2011 silam.
“Lalu saya pindah ke Pekanbaru, Riau sekitar 5 tahun. Balik lagi ke Pinang ini tahun 2019,” ucap Syafri kepada hariankepri.com, Sabtu (6/6/2026).
Titik Balik Menjemput Asa Negara
​Di tengah himpitan ekonomi yang mencekik itu, keluarga ini baru menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) murni dalam satu tahun terakhir.
Kehadiran bantuan PKH memang sedikit meringankan beban, namun rata-rata pendapatan Syafri yang hanya berkisar Rp50 ribu per hari, menjadi angka yang teramat mini untuk menghidupi lima nyawa di tengah laju inflasi kota.
Bersama istrinya, Fitri, seorang wanita berdarah Aceh, Syafri harus memutar otak sedemikian rupa agar uang tersebut cukup untuk membeli beras, garam, dan sedikit lauk.
Mereka adalah representasi nyata dari the invisible people. Masyarakat yang tak terlihat, bergerak di selasar terbawah kehidupan urban, luput dari akses kesempatan yang setara.
Hingga satu waktu, pendamping PKH dari Dinas Sosial mendatangi gubuk mereka, membawa sebuah kabar yang kelak mengubah garis takdir keluarga tersebut.
Saat sang pendamping menawarkan program Sekolah Rakyat, Syafri langsung menyambar peluang itu. Pria paruh baya ini setuju tanpa pikir panjang.
“Tak sampai 10 menit tawaran dari pendamping PKH dan Dinsos saya langsung setuju,” kenangnya.
Benak Syafri langsung melihat masa depan cerah, meskipun hatinya harus menanggung beban berat, karena akan berpisah dengan buah hatinya.
Kenyataan ekonomi yang pahit akhirnya meyakinkan Syafri, untuk merelakan ketiga putrinya masuk ke sekolah berasrama tersebut.
Tangis Sepi di Balik Dinding Tripleks

Fitri pun membuka kisah mengharukan, mengenai beratnya masa-masa awal melepas anak-anak mereka. Wanita ini menimpali, bahwa sepanjang satu bulan pertama ketiga putrinya menghuni asrama Sekolah Rakyat, Syafri hampir setiap malam meneteskan air mata.
Rasa sepi yang mendadak menyerang gubuk mereka membuat sang suami kerap berbicara sendiri, mengarahkan pandangan kosong ke sudut-sudut ruangan seolah-olah Desta, Desti, dan Melani masih berada di dekat mereka.
​Setiap kali rasa rindu mencengkeram dada, Syafri hanya mampu menyalakan sepeda motornya, lalu melintas pelan di depan gedung Sekolah Rakyat demi mengobati gejolak batinnya dari kejauhan.
“Suami saya menangis hampir setiap malam,” tutur Fitri pilu.
Syafri kembali mengambil alih pembicaraan, mengakui, bahwa ketiga putrinya memang tidak pernah terpisah, atau jauh dari dirinya sejak hari kelahiran mereka.
“Sejak lahir mereka tidak pernah jauh,” aku Syafri.
​Namun, demi sebuah jaminan pendidikan yang mengalir dari komitmen negara, Syafri menegaskan bahwa dirinya harus mengikhlaskan segalanya.
“Demi pendidikan mereka, saya harus ikhlas,” tegas Syafri.
Rasa cinta yang besar kepada masa depan anak-anaknya membulatkan tekad Syafri untuk mengubur ego, dan merelakan perpisahan, demi runtuhnya rantai kemiskinan keluarga mereka.
Harapan yang Nyaris Redup di Pinggir Parit
Tiga anak perempuan mereka: Desta Syafitri dan Desti Syafitri awalnya menempuh pendidikan di SMAN 7. Melani Syafitri di SMP Negeri 12 Tanjungpinang.
Kebutuhan akan buku, sepatu yang mulai jebol, hingga biaya-biaya penunjang lainnya menjadi hantu yang menakutkan. Ada ketakutan yang mendalam bahwa anak-anak harus putus sekolah.
Namun, semangat ketiga bersaudara ini tidak pernah surut. Di tengah keterbatasan ruang gerak dan minimnya pencahayaan di dalam rumah, Desta, Desti, dan Melani tetap tekun belajar.
Hingga akhirnya, secercah cahaya itu akhirnya datang dalam wujud Sekolah Rakyat Terintegrasi 33 Tanjungpinang. Sebuah program yang dirancang oleh Presiden RI, Prabowo Subianto, dengan nilai keberpihakan penuh kepada wong cilik.
Program ini hadir bukan sekadar sebagai institusi pendidikan formal biasa, melainkan, sebagai wujud nyata kehadiran negara untuk memuliakan mereka yang selama ini tidak terlihat.
Melalui sekolah ini, seluruh biaya hidup, asrama, makan, pakaian, hingga fasilitas pendidikan anak-anak menjadi tanggungan negara sepenuhnya.
Bagi keluarga Syafri, informasi ini laksana tetesan air di padang yang gersang. Tanpa ragu, dengan sisa-sisa harapan yang membuncah, mereka mendaftarkan ketiga putri mereka ke sekolah tersebut.
Ungkapan Hati Tiga Bersaudara
Pada September 2025, babak baru dalam kehidupan tiga bersaudara Syafitri resmi dimulai. Desta Syafitri dan Desti Syafitri, si kembar yang lahir 25 Desember 2007 kala itu berusia 16 tahun, melangkah masuk sebagai siswi kelas 11 SMA.
Sementara si bungsu, Melani Syafitri yang berusia 15 tahun, memulai perjalanannya di kelas 3 SMP. Langkah kaki mereka menandai runtuhnya sekat pembatas yang menjauhkan anak-anak miskin dari fasilitas pendidikan berkualitas tinggi.
Desta tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, setelah beberapa bulan menjalani kehidupan baru di sekolah berasrama ini. Ia menuturkan bagaimana tempat ini telah mengubah cara pandangnya terhadap masa depan.
“Saya merasa seperti bermimpi bisa berada di sini. Di Sekolah Rakyat ini, semua rasa cemas yang dulu selalu menghantui tiba-tiba hilang,” ungkapnya kepada hariankepri.com, Minggu (7/6/2026).
Apalagi ketika ayah tidak menghasilkan apa pun dalam sehari. Mereka tidak perlu lagi memikirkan apakah besok bisa makan atau apakah bulan depan masih bisa sekolah.
“Di sini, kami benar-benar dimuliakan sebagai manusia yang memiliki hak yang sama untuk pintar dan berhasil,” ungkap Desta dengan mata berkaca-kaca.
Jujur saja, kata Desta, awal masuk pada September 2025 lalu adalah masa-masa yang sangat berat bagi mereka bertiga. “Kami tidak pernah berpisah dari papa dan mama, sehingga setiap malam kami sering menangis bersama di kamar asrama karena rindu rumah,” ungkapnya.
Namun, lama-kelamaan keadaan berbalik sepenuhnya. Sekolah ini menyediakan metode belajar yang menyenangkan, jauh dari kesan kaku yang membosankan.
“Kami dapat fasilitas lengkap, bahkan masing-masing siswa memegang laptop sendiri untuk belajar digital dan mengakses informasi global,” terangnya.
Guru-guru di sini memperlakukan siswa dengan sangat lembut, membesarkan hati murid-muridnya yang dulunya minder agar berani bermimpi setinggi langit.
Sekarang, dinamika itu berubah total. Tiga dara ini sudah sangat betah di asrama, bahkan mereka sering enggan pulang ke rumah jika masa libur tiba.
Bukan karena melupakan orang tua, tetapi karena di Sekolah Rakyat mereka menemukan lingkungan yang sangat mendukung untuk bertumbuh.
Komitmen dan Keberanian untuk Bercita-cita

Senada dengan kembarannya, Desti Syafitri juga mengungkapkan rasa syukur dan sukacita yang mendalam. Baginya, Sekolah Rakyat adalah jawaban dari doa-doa malam yang sering ia dengar, terucapkan oleh ibunya di sudut gubuk mereka.
Dahulu, waktu masih di SMAN 7 Tanjungpinang, ia sering merasa rendah diri karena keterbatasan ekonomi. Namun di sini, konsep kesetaraan kesempatan belajar itu benar-benar nyata.
“Kami semua berangkat dari latar belakang yang sama dan diberikan fasilitas premium yang setara,” ungkap Desti.
Dan sekarang, ia pun berkomitmen untuk tidak menyia-nyeakan sepeser pun uang negara yang telah diinvestasikan untuk hidup mereka.
“Kami betah karena di sini kami melihat jalan yang terang benderang menuju masa depan yang mapan,” tambahnya dengan nada optimis.
Sementara itu, Melani Syafitri, si bungsu yang duduk di bangku kelas 3 SMP, merasakan dampak psikologis yang luar biasa dari perubahan lingkungan ini. Kepercayaan diri Melani tumbuh pesat, seiring dengan lengkapnya fasilitas yang ia nikmati.
Ia mengaku sangat bahagia bisa bersekolah di sini bersama kedua kakaknya. Dulu, dirinya sering takut kalau kelulusan SMP akan menjadi akhir dari pendidikannya karena biaya SMA yang mahal.
“Saya bisa fokus belajar mempersiapkan ujian dan melanjutkan ke tingkat atas tanpa perlu melihat dompet ayah yang sering kosong,” kata Melani.
Kehadiran sarana prasarana modern di sekolah ini benar-benar mengubah segalanya. Mereka belajar cara mengoperasikan perangkat digital, dan menjelajahi dunia lewat internet.
Ketangguhan yang Mengetuk Hati sang Kepala Sekolah
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 33 Tanjungpinang, Reni Putri Ramadhani, tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya, ketika menceritakan rekam jejak tiga bersaudara Syafitri.
Reni mengingat betul bagaimana ketiga anak perempuan itu pertama kali datang membawa kecanggungan, tapi dengan cepat mengubahnya menjadi energi belajar yang luar biasa.
Kehadiran mereka di asrama membawa dampak positif yang besar, karena mereka menjaga keharmonisan dan merajut rasa kekeluargaan di antara sesama anak-anak Sekolah Rakyat.
Dari sisi akademik dan adaptasi teknologi, Reni juga memuji perkembangan pesat yang ditunjukkan oleh trio Syafitri ini.
Reni menceritakan momen mendebarkan, saat Desti harus mendadak ke rumah sakit dan menjalani perawatan intensif, akibat penyakit serius yang membutuhkan tindakan bedah.
Tim medis RSUD Kota Tanjungpinang akhirnya melakukan tindakan operasi, untuk menyelamatkan nyawa gadis berusia 16 tahun tersebut.
Namun, pasca-operasi, sebuah pemandangan mengharukan justru tersaji di ruang rawat rumah sakit yang memantik kekaguman Reni.
Begitu kelopak matanya terbuka dan kondisinya dinyatakan membaik oleh dokter, kalimat pertama yang keluar dari bibir pucat Desti bukanlah keluhan atau pun keinginan untuk pulang beristirahat di rumah orang tuanya.
Dengan suara lirih namun penuh keyakinan, Desti justru langsung meminta izin kepada kepala sekolah dan ibunya untuk segera kembali ke asrama Sekolah Rakyat agar tidak ketinggalan pelajaran.
Keinginan kuat Desti untuk langsung kembali ke pelukan sekolah, menolak manja dalam masa pemulihan, menegaskan bahwa institusi ini berhasil menanamkan rasa cinta yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan.
Semangat pantang menyerah yang Desti tunjukkan di bangsal RSUD Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) itu, seketika membakar motivasi seluruh warga sekolah untuk terus memberikan dedikasi terbaik bagi masa depan mereka.
“Iya betul, waktu itu Desti memang tak mau pulang, dan mau langsung ke asrama lagi. Alhamdulillah cuma 2 hari di RSUD,” kenang Fitri sang ibu membenarkan.
Syafri juga mengakui penderitaan Desti bermula sejak tahun 2025 silam. Ia bahkan berulang kali membawa putrinya berobat ke RSUD menggunakan fasilitas jaminan kesehatan BPJS.
​”Petugas medis USG, katanya tidak sakit,” kenang Syafri.
Dokter saat itu hanya mendiagnosis gejala memar biasa, namun insting Syafri meyakini sang anak mengidap penyakit yang jauh lebih serius.
​Manajemen Sekolah Rakyat akhirnya mengambil alih keadaan dengan membawa Desti kembali ke rumah sakit. Pihak sekolah meminta RSUD melakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan perangkat rontgen laboratorium.
​Hasil rontgen baru berhasil menguak penyakit Desti yang sebenarnya, yaitu usus buntu akut. Penemuan cepat tersebut membuat dokter langsung mengambil tindakan operasi, demi menyelamatkan nyawa Desti.
Perubahan Nyata Pascalibur Pertama
​Waktu berjalan merajut cerita baru, membawa senyum yang sempat hilang kembali ke gubuk tepi parit tersebut. Syafri dan Fitri kompak mengakui sebuah pemandangan luar biasa, ketika momen libur pertama tiba dan pihak sekolah mengizinkan anak-anak pulang ke rumah.
Sepasang suami istri ini menangkap perubahan karakter yang sangat mencolok, dan jauh berbeda dari ketiga putri mereka.
Anak-anak kini tampil jauh lebih disiplin dalam membagi waktu, teratur mengurus keperluan pribadi, serta memiliki wawasan berpikir yang jauh lebih terbuka saat berdiskusi.
​Melihat transformasi positif yang terpancar dari sikap anak-anaknya, gubuk tripleks yang sempit itu seketika penuh dengan aura sukacita. Fitri merasa takjub melihat kedewasaan putri-putrinya yang tumbuh subur di dalam asrama.
“Anak-anak sekarang jauh lebih disiplin,” ungkap Fitri bangga.
Syafri juga mengangguk mantap, menyetujui kalimat istrinya sembari memandang binar mata ketiga putrinya yang kini memancarkan harapan baru.
“Wawasan berpikir mereka sekarang lebih terbuka,” pungkas Syafri.
Berdasarkan data Dinas Sosial (Dinsos) Tanjungpinang, Sekolah Rakyat Terintegrasi 33 Tanjungpinang angkatan pertama menampung 100 siswa. Terdiri atas 50 siswa SD, 25 siswa SMP, dan 25 siswa SMA.
Seluruh peserta didik memperoleh pendidikan berasrama secara gratis lengkap dengan fasilitas makan, pakaian, layanan kesehatan, dan sarana belajar.
Program ini dirancang untuk memperluas akses pendidikan, bagi anak-anak dari keluarga miskin, sekaligus menjadi salah satu upaya memutus mata rantai kemiskinan.
Di gubuk kecil tepi parit itu, Syafri kini masih menambal ban setiap hari. Bedanya, ia tidak lagi menambal hidup dengan keputusasaan.
Syafri percaya, tiga putrinya sedang menapaki jalan yang akan membawa keluarganya keluar dari lingkaran kemiskinan. (taufik)





