TANJUNGPINANG (HAKA) – Perubahan iklim memicu masuknya air laut ke lahan pertanian. Fenomena intrusi ini, menjadi tantangan serius bagi petani pesisir Kepulauan Riau.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan (DKP2KH) Kepri, Rika Azmi, mengakui fenomena ini berdampak signifikan. Salah satunya terjadi di daerah Teluk Radang, Kabupaten Karimun.
“Kadar salinitas air irigasi meningkat akibat air laut masuk. Petani tidak bisa menanami lahan pertanian secara maksimal,” ujarnya.
Rika menjelaskan, perbaikan pintu irigasi seringkali kurang efektif. Tekanan air pasang yang tinggi terus menembus akses masuk air laut ke lahan.
Sebagai solusi konkret, DKP2KH Kepri kini mengarahkan para petani pesisir, beralih menggunakan sistem hidroponik dalam bercocok tanam.
“Kami mulai membantu penerapan hidroponik di Bintan dan Anambas. Tanaman berada di atas, tidak bersentuhan langsung dengan tanah asin,” jelasnya.
Rika juga menyarankan petani memaksimalkan aktivitas pertanian konvensional pada lahan darat.
“Posisinya harus aman dari jangkauan air laut,” ucapnya.
Menurutnya, inovasi teknik menanam sangat perlu agar petani pulau tetap produktif. Tantangan lingkungan yang berat menuntut kreativitas para pengolah lahan.
“Kita harus beradaptasi. Lahan pesisir terpapar garam tidak boleh mematikan semangat petani menghasilkan komoditas pangan,” pungkas Rika. (sih)





