BINTAN (HAKA) – Bupati Bintan Roby Kurniawan mengakui Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bintan semester I tahun 2025, tidak sesuai target yang telah ditetapkan.
“Target PAD sudah kita evaluasi berkurang,” jelas Roby saat dikonfirmasi di kantornya, beberapa waktu lalu.
Menurut Roby, penyebab berkurangnya penerimaan daerah itu di antaranya, sektor pariwisata sebagai penyumbang PAD terbesar Pemkab Bintan.
“Memang angka kunjungan wisatawan di wilayah Bintan, yang belum maksimal beberapa bulan terakhir,” tuturnya.
Namun pun demikian, sambung Roby, dirinya optimis PAD Bintan tahun 2025, akan mencapai target sesuai rencana yang telah disepakati bersama.
“Tapi tetap kita optimis target yang kita rencanakan tahun ini, Insya allah akan tercapai,” harapnya.
Roby menerangkan, Pemkab Bintan akan merumuskan langkah-langkah untuk meningkatkan PAD Bintan. Yakni, melakukan berbagai ivent pariwisata. Kemudian, Bapenda serta dinas terkait mengoptimalkan penagihan tunggakan pajak dan retribusi daerah.
“Bapenda dan dinas lainnya, memanggil wajib pajak untuk melunasi tunggakan pajaknya,” tambahnya.
Ia menambahkan, Pemkab Bintan akan bekerjasama dengan Perguruan Tinggi tahun 2025 ini, untuk merumuskan serta menentukan sektor mana saja di wilayah Bintan, sebagai potensi pendapatan daerah.
“Misalnya sektor usaha Tv kabel, telekomunikasi, pajak reklame, terus dan potensi lainnya untuk dipungut biayanya,” tuturnya.
Diketahui, Kementerian Keuangan RI mencatat dalam SIKD, angka realisasi PAD Bintan pada postur APBD murni tahun 2025, terjadi penurunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024 lalu. Yakni, total realisasi PAD tahun mencapai 52 persen lebih, turun menjadi 39 persen lebih, tahun ini.
Namun, Kabid Pengelolaan Pendapatan Daerah, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bintan, Rino Ariyanto, memberikan versi berbeda atas laporan realisasi yang ada di SIKD Kemenkeu RI tersebut.
Menurutnya, target dan relaksasi PAD Kabupaten Bintan tahun anggaran murni periode Januari 2025 hingga 15 Juli 2025, telah mencapai 42,71 persen. Namun, ia mengakui bahwa beberapa objek pajak yang belum maksimal. Di antaranya, PBBP2, BPHTB, serta opsen pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB).
“Biasaya tren realisasi, khusus pembayaran pajak PBB meningkat pada bulan Agustus dan September, karena mendekati jatuh tempo pembayaran. Kalau sektor lainnya, alhamdulillah sesuai target,” imbuhnya. (rul)





