KARIMUN (HAKA) – Politikus senior sekaligus tokoh masyarakat Karimun, Ery Suandi, menyoroti persoalan ambulans laut bagi pasien rujukan di Karimun.
Ery menyebut, hingga saat ini masyarakat di Kundur dan pulau lainnya, masih kesulitan mengakses layanan kesehatan karena pemda belum menyediakan ambulans laut yang memadai.
Minimnya fasilitas kesehatan di wilayah kepulauan memaksa pasien harus merujuk ke Tanjung Balai Karimun, namun kendala biaya transportasi seringkali menghambat warga.
Ia menyebutkan, biaya rujukan pasien bisa mencapai Rp 700.000 untuk sekali jalan pulang-pergi, termasuk biaya operasional tenaga medis yang mendampingi.
“Ini jadi masalah besar. Fasilitas kesehatan di Kundur sangat minim, kalau sakit harus ke Balai dan itu pakai biaya, sementara ambulan laut tidak ada,” ujar Ery kepada hariankepri.com, Senin (13/4/2026).
Ery mengaku prihatin, karena masyarakat hingga kini belum merasakan manfaat nyata dari janji-janji kampanye, mengenai program unggulan transportasi kesehatan.
Akibat ketiadaan layanan pemerintah, masyarakat terpaksa menggunakan kapal atau boat pribadi milik warga lainnya, untuk menyeberangkan pasien dalam kondisi darurat.
Bahkan, Ery seringkali mengerahkan kapal pribadinya sendiri untuk membantu mengantar-jemput pasien hingga ke Batam maupun Dumai.
“Saya sendiri memakai boat pribadi untuk membantu masyarakat,” ungkapnya.
Ery juga membeberkan, bahwa kebutuhan akan ambulans laut sangat mendesak, mengingat tingginya mobilitas pasien antarpulau di wilayah Karimun.
Ia berharap, pemerintah daerah segera merealisasikan program tersebut, agar masyarakat kecil tidak lagi memikul biaya rujukan yang sangat mahal.
“Jangan sampai yang terus beroperasi malah boat pribadi. Padahal waktu kampanye banyak janji program unggulan, tapi kenyataannya belum berjalan,” pungkasnya. (sih)





