TANJUNGPINANG (HAKA) – Provinsi Kepri berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera pada triwulan II 2025, namun manfaatnya belum bisa langsung dirasakan masyarakat secara luas. Hal ini dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri, Margareta
“Berdasarkan teori ekonomi, kondisi semacam itu memang sangat mungkin bisa terjadi,” terangnya kepada wartawan.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi adalah indikator makro yang menunjukkan tingginya aktivitas perekonomian di suatu wilayah.
“Namun, indikator itu tidak serta merta bisa mencerminkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh,” jelasnya.
Ia mengatakan, untuk melihat hasil pertumbuhan ekonomi tersebut bisa dinikmati masyarakat secara merata, perlu dilihat juga indikator rasio gini yang mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi sering kali disumbang oleh sektor-sektor dengan nilai ekonomi yang tinggi, tetapi tidak melibatkan masyarakat secara luas,” sebutnya.
Sebagai contoh, kata dia, pada triwulan II kali ini, sektor penyumbang utama pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepri adalah sektor migas.
“Nilai ekonominya besar, namun sektor ini cenderung tidak menyerap banyak tenaga kerja lokal. Hal ini berbeda dengan sektor seperti UMKM atau perdagangan, yang memiliki daya serap tenaga kerja yang luas dan merata,” lanjutnya.
Selain itu, sebagai sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar lainnya, yakni sektor industri, juga memiliki karakteristik yang serupa dengan sektor migas.
Peningkatan aktivitas ekonomi di sektor tersebut lebih dulu dirasakan oleh para pekerja industri itu sendiri. Baru kemudian, masyarakat sekitar bisa merasakan dampaknya meskipun secara tidak langsung.
“Misalnya melalui meningkatnya konsumsi dari para pekerja industri,
tentunya hal ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, dia menegaskan, jika sektor yang mendominasi pertumbuhan ekonomi tidak mampu menyerap tenaga kerja secara inklusif, maka peningkatan kesejahteraan masyarakat luas akan berlangsung secara bertahap.
Biasanya, kata dia, baru beberapa bulan kemudian masyarakat mulai bisa merasakan dampak positifnya pertumbuhan ekonomi dalam bentuk peningkatan pendapatan atau pula peluang usaha.
“Kalau kita ingin pertumbuhan ekonomi yang inklusif, maka sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja secara luas perlu menjadi pendorong utama,” imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, ia menyebut, tingginya pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepri saat ini masih tergolong positif, namun juga perlu diingat bahwa masih banyak pekerjaan yang masih perlu diselesaikan.
“Kita harus memastikan pertumbuhan tersebut bisa dinikmati secara merata oleh semua lapisan masyarakat. Akan tetapi, tentunya hal ini butuh waktu,” tutupnya. (dim)





