TANJUNGPINANG (HAKA) – Ekonomi Provinsi Kepri menunjukkan performa yang luar biasa pada Triwulan II tahun 2025. Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri, Margareta.
Ia menjelaskan, bahwa pertumbuhan ekonomi Kepri secara tahunan (y-on-y) tumbuh sebesar 7,14 persen dibanding tahun lalu. “Untuk pertumbuhan kali ini bukan hanya soal angka yang besar, tapi soal kualitas,” ungkapnya kepada hariankepri.com, Selasa (5/8/2025).
Margareta menyebut, kondisi ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang sering mengandalkan sektor migas, kali ini hampir semua sektor menyumbang pertumbuhan. Ekspor, investasi, industri pengolahan, energi, hingga pariwisata, semuanya menunjukkan tren kenaikan.
“Ekspor misalnya, pada triwulan II tahun ini melonjak mencapai 41,52 persen dan menyentuh angka US$ 6,29 miliar. Yang paling tinggi datang dari komoditas mesin dan peralatan listrik yang tumbuh hampir 85 persen, serta mesin mekanik yang naik lebih dari 77 persen,” sebutnya.
Selain itu, Margaret mengatakan, bahwa sektor investasi juga tak kalah hebat dengan yang lainnya. Tingkat Penanaman Modal Asing (PMA) kini telah tumbuh fantastis hingga mencapai 155 persen, sementara investasi dalam negeri (PMDN) naik lebih dari 110 persen.
“Ini menunjukkan bahwa Provinsi Kepri makin dilirik oleh para investor, baik lokal maupun mancanegara,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut, sektor energi kali ini juga ikut menyumbang pertumbuhan yang cukup besar. Produksi minyak mentah naik mencapai 44 persen, sementara gas alam tumbuh lebih dari 31 persen yang didorong oleh beroperasinya ladang minyak Forel dan Terubuk di Laut Natuna sejak Mei 2025 lalu.
Selain itu, sinyal kuat juga datang dari sektor industri. Konsumsi listrik industri melonjak lebih dari 73 persen, dan pengadaan semen naik sampai 45 persen.
“Hal ini menunjukkan geliat pembangunan infrastruktur dan pabrik-pabrik yang kembali aktif dari sebelumnya,” tambahnya.
Tak ketinggalan, sektor pariwisata juga ikut bangkit kali ini. Margareta menyebut, bahwa jumlah wisatawan mancanegara (wisman) telah meningkat lebih dari 31 persen, sedangkan wisatawan nusantara (wisnu) melonjak hingga hampir 54 persen dibanding tahun lalu.
“Ekonomi yang merata seperti ini membuat kita lebih tahan terhadap gejolak dunia luar. Ini juga bentuk pondasi yang kuat untuk pembangunan jangka panjang,” tutupnya. (dim)





