TANJUNGPINANG (HAKA) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri mencatat, bahwa kenaikan harga sejumlah bahan pangan, menjadi faktor utama terjadinya inflasi di Provinsi Kepri pada Agustus 2025.
Kepala BPS Kepri, Margareta menyebutkan, bahwa inflasi secara bulanan pada Agustus 2025 mengalami kenaikan sebesar 0,18 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesarnya.
Kenaikan harga pada kelompok tersebut, kata dia, mencapai 0,83 persen dan menyumbang 0,24 persen terhadap inflasi pada bulan tersebut. “Komoditas seperti cabai merah, bawang merah, dan daging ayam mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan,” ujarnya, kepada hariankepri.com, Selasa (2/9/2025).
Selain itu, sejumlah sayur-sayuran seperti buncis, kacang panjang, sawi putih, kentang, serta komoditas lain seperti daging sapi, cabai hijau, dan kol putih, juga ikut menyumbang inflasi.
Di luar sektor pangan, angkutan laut, emas perhiasan, dan rokok kretek mesin (SKM), juga turut andil terhadap inflasi di Kepri selama Agustus 2025.
Meski begitu, Margareta menyebut, ada sejumlah komoditas yang justru mengalami penurunan harga atau deflasi pada bulan tersebut. Seperti tomat, bayam, kangkung, wortel, cabai rawit, serta angkutan udara.
“Fluktuasi harga ini dipengaruhi banyak faktor, seperti distribusi barang, musim panen, dan permintaan masyarakat yang berubah-ubah,” jelasnya.
Secara tahunan tepatnya Agustus 2024 hingga Agustus 2025, inflasi di Kepri tercatat sebesar 2,19 persen, sementara inflasi sepanjang tahun 2025 ini tercatat sebesar 1,07 persen.
“Karimun menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertingi di Kepri. Oleh karena itu, kami mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam berbelanja, serta mampu mendistribusikan bahan pokok tetap lancar agar gejolak harga bisa ditekan,” tutupnya. (dim)





