TANJUNGPINANG (HAKA) – Wakil Ketua I DPRD Kota Tanjungpinang, Ade Angga menjelaskan, bahwa roda perekonomian di ibu kota Provinsi Kepri cenderung stagnan.
Untuk itu, DPRD Kota Tanjungpinang mendorong terciptanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, melalui pengembangan wilayah setempat secara maksimal.
”Kita harus secara jujur melihat bahwa ekonomi di Tanjungpinang ini cenderung stagnan,” ujar Ade Angga, kemarin.
Pihaknya kini sedang menggesa pembahasan pembentukan Peraturan Daerah (Perda) tentang Kawasan Industri di Tanjungpinang melalui Panitia Khusus (Pansus).
Tim menyiapkan dan memetakan lahan menjadi kawasan peruntukan industri di sejumlah kecamatan berdasarkan usulan terbaru.
”Paling tidak, sekarang harus mulai dikembangkan,” tambahnya.
Pemerintah menyiapkan lahan seluas 769,3 hektare di Kecamatan Bukit Bestari untuk wilayah perdagangan bebas dan industri galangan kapal.
Secara spesifik, Pansus memetakan area Dompak untuk Industri Halal, Logistik, Pengolahan Makanan, Teknologi Tinggi, Manufaktur, serta Bioteknologi.
Selanjutnya, Kecamatan Tanjungpinang Kota menyediakan lahan seluas 16,39 hektare khusus bagi pemenuhan sektor industri perkapalan daerah.
Sementara itu, Kecamatan Tanjungpinang Timur memiliki rencana lahan seluas 361,3 hektare untuk Eco Industrial Park dan kawasan pelabuhan.
Ade Angga menegaskan, bahwa Perda ini memberikan kepastian hukum mengenai tata letak zonasi serta ketersediaan pasokan energi bagi investor.
Namun, Ade merekomendasikan agar pemerintah daerah turut membantu proses pembebasan lahan secara bertahap, beserta penyediaan fasilitas dasar.
“Sebab, investor sering menghadapi kendala kerumitan status lahan saat berurusan langsung dengan pihak ketiga di lapangan,” imbuhnya.
Mengenai minat investasi, Ade mengungkapkan, pemilik kawasan industri di Batam berminat membuka jaringan baru di Kota Tanjungpinang.
Hal tersebut terjadi karena ketersediaan lahan industri di Kota Batam saat ini sudah semakin sempit dan mahal.
“Dari jaringan teman-teman di Singapura, saat ini mereka berencana memindahkan pabrik atau industri ke luar Singapura,” ungkap Ade. (sih)






