TANJUNGPINANG (HAKA) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri mencatat kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada penghujung tahun 2025.
Terhitung pada Desember 2025, Provinsi Kepri mengalami inflasi year on year (y-on-y) sebesar 3,47 persen.
Kepala BPS Kepri, Margaretha Ari Anggorowati mengungkapkan, kenaikan harga emas perhiasan, dan kelompok makanan menjadi pemicu utama lonjakan inflasi ini.
Dari data yang ada, IHK Kepri merangkak naik dari 107,35 poin pada Desember 2024 menjadi 111,08 poin pada Desember 2025.
“Perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi hingga 16,68 persen, emas perhiasan menjadi komoditas dominan,” ujarnya, kepada hariankepri.com, kemarin.
Margareta merincikan, dari tiga kabupaten kota yang menjadi pantauan, Kota Batam mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 3,68 persen dengan IHK 111,67.
Menyusul berikutnya Kota Tanjungpinang yang mengalami inflasi sebesar 2,75 persen, dengan nilai IHK 108,64.
“Sementara itu, Karimun menjadi wilayah dengan inflasi terendah, yakni sebesar 2,72 persen dengan total nilai IHK 109,31,” katanya.
Selain emas, warga juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk urusan dapur masing-masing.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil inflasi sebesar 1,49 persen.
Beberapa komoditas pangan yang dominan memicu inflasi seperti cabai merah, cabai rawit, daging ayam, daging sapi, dan telur ayam.
“Untuk kelompok rokok dan tembakau juga mengalami kenaikan sebesar 5,87 persen, khususnya pada sigaret kretek mesin (SKM),” tambahnya.
Tak hanya urusan perut, tarif angkutan udara juga ikut menyumbang kenaikan harga pada periode ini.
“Kondisi ini sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat di akhir tahun 2025,” tuturnya.
Meski mayoritas harga barang naik, BPS juga mencatat ada beberapa komoditas yang justru mengalami penurunan harga atau deflasi.
Komoditas tersebut meliputi bawang merah, tomat, bawang putih, hingga tarif angkutan laut.
Selain itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga menunjukkan tren penurunan harga yang sangat tipis sebesar 0,01 persen.
Secara bulanan atau month to month (m-to-m), Provinsi Kepri mengalami inflasi sebesar 1,14 persen.
“Ini jika kita membandingkan kondisi Desember 2025 terhadap November 2025,” terangnya. (dim)




