TANJUNGPINANG (HAKA) – Pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional, di Pulau Penyengat akan melibatkan sekitar 200 pekerja dari berbagai keahlian.
Kepala Dinas PUPRP Provinsi Kepri, Rodi Yantari mengatakan, proyek tersebut juga membuka kesempatan kerja bagi warga Tanjungpinang dan Bintan.
Pekerja lokal harus memiliki kemampuan dan keterampilan, sesuai kebutuhan pembangunan struktur bangunan museum dan monumen tersebut.
“Pengerjaan ini membutuhkan 30 persen pekerja lokal atau 60 orang, dari total 200 tenaga kerja,” ujar Rodi.
Rodi menyampaikan hal tersebut, selepas peresmian pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat pekan lalu.
Kawasan museum dan monumen tersebut memiliki luas tiga hektare dengan tiga zona utama.
Zona pertama berada di atas bukit dan menjadi lokasi bangunan museum. Zona Dua area perindustrian, dan zona tiga mencakup lokasi bazar dan UMKM.
Saat ini, kontraktor telah menyelesaikan pematangan lahan setelah mengerjakannya selama lebih dari satu bulan.
“Jadi progres sementara sekitar 2 persen,” tutur Rodi.
Pemprov Kepri bersama kontraktor pelaksana PT Himindo Citra Mandiri, menargetkan progres pembangunan mencapai 10 persen pada akhir 2026.
PT Mitra Anugrah Pondasi, anak perusahaan Himindo, mendukung pekerjaan tersebut dengan menyediakan berbagai alat berat.
Perusahaan mendatangkan alat berat dari Jakarta dan sebagian lainnya dari Tanjungpinang untuk pematangan lahan serta pembangunan pondasi struktur.
Untuk mendukung pengangkutan material, pihak pelaksana menyiapkan dua dermaga jetty di sisi utara dan selatan Pulau Penyengat.
Kedua jetty tersebut mengantisipasi gangguan cuaca selama proses pengangkutan material menuju kawasan pembangunan.
“Apabila musim utara, pengangkutan material akan bongkar muat di jetty bagian selatan Pulau Penyengat,” ujar Rodi. (rul)




