BATAM (HAKA) — Pemerintah Kota Batam, bersama BP Batam memetakan 167 titik banjir untuk memperjelas penanganan di lapangan.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan, Pemko dan BP Batam perlu menyinkronkan data serta pembagian wilayah kerja.
“Yang paling penting dari pertemuan ini adalah rencana aksi dan tindak lanjut nyata di lapangan,” kata Amsakar.
Dari 167 titik tersebut, BP Batam menangani 33 titik, sedangkan titik lainnya menjadi tanggung jawab Pemko Batam.
Amsakar meminta camat dan lurah, memperbarui data banjir secara akurat untuk menjadi dasar perencanaan dan penganggaran.
Pembagian wilayah kerja itu bertujuan, mencegah tumpang tindih penanganan sekaligus memastikan tidak ada wilayah yang terlewat.
“Salah satu titik perhatian berada di Bengkong Swadebi yang memiliki posisi relatif rendah,” kata Amsakar.
Kawasan tersebut menjadi titik temu aliran air dari tiga wilayah, termasuk aliran dengan debit besar dari Cahaya Garden.
Pemko Batam dan BP Batam menyepakati, pembangunan kolam retensi serta rumah pompa di bagian hilir kawasan.
Infrastruktur tersebut akan menampung dan mengatur aliran air agar penanganannya berjalan lebih terintegrasi.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra juga meminta evaluasi titik banjir dilakukan secara berkala.
“Data awal yang dari lapangan terus dinamis seiring berkembangnya kawasan permukiman,” ujar Li Claudia.
Menurutnya, perkembangan permukiman membuat kondisi wilayah berubah sehingga data penanganan juga harus terus diperbarui.
Li Claudia juga menyoroti kawasan permukiman padat yang berada di wilayah cekungan akibat perkembangan pembangunan sebelumnya.
Penanganan kawasan tersebut membutuhkan proses serta intervensi teknis yang matang agar persoalan banjir tidak kembali berulang. (fik)




