RATUSAN lampion merah menggantung berderet di kawasan Kota Lama Tanjungpinang, memancarkan cahaya hangat yang mengusir sunyi.
Biasanya kawasan ini terlelap lebih awal, namun malam itu denyutnya kembali hidup. Musik berdentum, aroma kuliner menguar di udara.
Langkah kaki warga saling bersahutan dalam kemeriahan Bazar Imlek di Tanjungpinang.
Di tengah riuh kendaraan yang berdatangan, para pemuda setempat sigap mengatur barisan roda empat dan roda dua.
Mereka memanfaatkan momen tahunan ini untuk menambah penghasilan. Rian Hidayat berdiri di antara kepulan asap knalpot dan bunyi klakson yang saling bersautan.
Peluh mengalir di pelipisnya, namun semangat tak surut sedikit pun. Lelah tak terasa saat lihat rezeki masuk.
“Ini momen setahun sekali buat dapur keluarga dan orang tua,” ujarnya kepada hariankepri.com, Senin (16/2/2026) malam.
Sementara itu, di sudut lain kawasan Kota Lama, generasi muda justru menghadirkan warna berbeda.
Mereka menyusuri Jalan Merdeka, membingkai cahaya lampion dan dinding bangunan tua dalam layar ponsel. Tawa renyah dan pose penuh gaya mewarnai setiap jepretan.
Bagi Generasi Z, sudut-sudut klasik itu menawarkan estetika yang tak tergantikan.
Sinta Arya Pratiwi, pengunjung asal Kijang, sengaja memadukan busana bernuansa merah agar selaras dengan suasana.
Ia berputar pelan, memastikan setiap foto menangkap cahaya terbaik.Rasanya syahdu, seperti masuk ke film lama.
“Sayang kalau momen setahun sekali ini tak diabadikan,” tuturnya.
Namun, ketika malam makin larut dan keramaian perlahan menyusut, ritme kawasan berubah kembali.
Para pedagang menutup lapak, pengunjung beranjak pulang, dan lampion tetap bergoyang pelan tertiup angin laut. Pada saat itulah para petugas kebersihan mulai bergerak menyusuri jalan.
Dimas Nugraha menggenggam sapu lidi dan karung besar. Ia memungut sisa plastik, gelas kertas, dan serpihan sampah yang tertinggal di aspal.
Langkahnya teratur, matanya teliti menyapu setiap sudut agar wajah kota kembali rapi sebelum fajar menyingsing.
“Biarlah orang tidur nyenyak, tugas kami pastikan jalanan ini sudah bersih saat matahari terbit,” katanya.
Suara sapu yang bergesekan dengan aspal pun menjadi penutup lembut setelah hingar-bingar pesta rakyat.
Pada akhirnya, cahaya lampion merah tidak hanya menerangi wajah-wajah bahagia, tetapi juga menyinari kerja keras dan harapan warga yang menghidupkan kembali jantung Kota Lama di Tanjungpinang. (sih)





