TANJUNGPINANG (HAKA) – Kabar mengejutkan datang dari salah satu maskapai bergengsi, yakni Garuda Indonesia.
Per 9 Februari 2026 mendatang, maskapai ini menghentikan operasional penerbangannya di Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kepri, Rudi Chua, merespon mengenai kabar maskapai tersebut.
Ia memandang pengunduran diri Garuda Indonesia ini bukan sekadar urusan teknis penerbangan.
Rudi mengatakan, hal ini akan membawa dampak psikologis yang serius, terhadap sektor ekonomi dan kepercayaan investor di ibu kota Provinsi Kepri.
Menurutnya, Garuda itu simbol kemajuan ekonomi sebuah daerah. Selama ini, orang melihat kota yang Garuda singgahi sebagai daerah yang ekonomi dan bisnisnya maju.
Rudi menjelaskan, hengkangnya Garuda Indonesia akan memengaruhi cara pandang investor luar terhadap Kota Tanjungpinang.
Ia merasa khawatir, para pengusaha bakal menilai Kota Tanjungpinang sebagai daerah yang tidak lagi potensial secara ekonomi.
“Kalau Garuda saja sampai tidak mau terbang lagi ke sini, investor bisa kehilangan kepercayaan,” ujarnya, kepada hariankepri.com, kemarin.
Dari informasi yang ia himpun, salah satu pemicu kebijakan pahit ini adalah prediksi penurunan jumlah penumpang.
Selama ini, pasar utama Garuda Indonesia di Kota Tanjungpinang berasal dari kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pelaku bisnis.
“Rencana pengurangan anggaran perjalanan dinas membuat manajemen Garuda memilih untuk menarik diri dari sini,” katanya.
Selain itu, kata dia, daerah lain seperti Bengkulu dan Malang juga mengalami nasib serupa.
Lebih lanjut, ia juga mengapresiasi Gubernur Kepri yang bergerak cepat mengirimkan surat keberatan kepada Direktur Utama Garuda Indonesia pada minggu lalu.
“Sebagai ibu kota provinsi sangat memerlukan kehadiran maskapai utama seperti Garuda untuk menjaga wibawa ekonomi daerah,” pungkasnya. (dim)





