BENCANA banjir dan tanah longsor tidak hanya merusak rumah warga. Musibah alam ini ternyata memicu munculnya berbagai penyakit mematikan di tengah masyarakat.
Perubahan bentang alam akibat penggundulan hutan memperparah risiko ini. Kerusakan ekosistem mendorong penyebaran penyakit zoonosis atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat fakta mengejutkan. Hewan yang kehilangan habitat menyumbang 60 persen penyakit menular baru pada manusia.
Nyamuk dan Tikus Jadi Ancaman Utama
Genangan air pascabanjir menjadi tempat favorit nyamuk Aedes dan Anopheles berkembang biak.
Kondisi ini memicu lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Malaria secara signifikan.
Selain nyamuk, tikus juga mengancam keselamatan warga. Banjir menghancurkan sarang alami tikus dan memaksa mereka masuk ke pemukiman manusia.
Air yang mengandung urine tikus membawa bakteri penyebab Leptospirosis. Penyakit ini sangat mematikan jika warga terlambat mendapatkan penanganan medis.
Krisis Sanitasi di Lokasi Pengungsian
Kerusakan sistem drainase dan saluran air bersih memperburuk situasi kesehatan. Warga di lokasi pengungsian kini menghadapi risiko penularan penyakit yang sangat cepat.
Kepadatan penduduk di tenda darurat memicu penyebaran penyakit. Seperti Diare akut akibat air kotor, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Penyakit kulit dan gatal-gatal, serta Ancaman Tuberkulosis (TBC) dan campak.
Langkah Pencegahan dan Solusi
Para ahli kesehatan lingkungan menyarankan langkah mitigasi yang cepat. Pemerintah daerah perlu segera memperbaiki sistem drainase darurat untuk membuang genangan air.
Petugas kesehatan harus memantau vektor serangga secara berkala. Pengelolaan limbah dan sampah di lokasi bencana juga menjadi kunci utama pencegahan wabah.
Masyarakat Kepulauan Riau harus tetap menjaga kebersihan sumber air minum. Pastikan selalu mencuci tangan dan kaki setelah bersentuhan dengan air banjir untuk menghindari infeksi kuman.





