SETIAP akhir tahun, hingga awal tahun, masyarakat pesisir Tanjungpinang dan Bintan selalu sibuk bergulat dengan banjir rob.
Air laut tak lagi sekadar menyapa lantai rumah panggung di kawasan pelantar. Banjir rob bukan lagi fenomena alam biasa, melainkan teror tahunan yang terjadwal.
Siklus bulan purnama di akhir dan awal tahun seolah menjadi lonceng yang mengusik ketenangan warga. Baik di Tanjungpinang maupun Bintan.
Banjir rob ini adalah potret nyata dari krisis iklim. Di Tanjungpinang, rob telah menjadi pengingat akan bencana.
Lantas, sampai kapan masyarakat Kepulauan Riau, khususnya Bintan dan Tanjungpinang harus terus memanen duka di setiap musim utara?
Untuk melihat seperti apuka duka, hingga potret pedih masyarakat pesisir, baca ulasan lengkapnya, DI SINI!.
Penulis: Dimas





