TANJUNGPINANG (HAKA) — Sebanyak 1.200 medali berbentuk gonggong menjadi wujud keterlibatan IKM Tanjungpinang dalam Dekranasda Fun & Run 5K dan 10K.
“Medali gonggong jadi salah satu identitas khas daerah,” ucap.Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Tanjungpinang, Riany.
Ia menyampaikan, bahwa kegiatan ini mengintegrasikan olahraga dengan pengembangan UMKM dan sektor kerajinan daerah.
“Kolaborasi ini, sekaligus menggerakkan UMKM dan para pengrajin agar turut berpartisipasi,” ujar Riany.
Keterlibatan IKM binaan Dekranasda, terlihat melalui produksi medali peserta yang mengangkat bentuk gonggong sebagai simbol identitas lokal.
“Dalam kegiatan ini kami melibatkan sekitar 150 pelaku usaha, baik dari UMKM maupun IKM,” tambahnya.
Selain produksi medali, pelaku UMKM dan IKM juga berpartisipasi dalam bazar yang menghadirkan kuliner khas Melayu serta berbagai produk kerajinan lokal.
Produknya meliputi batik, tanjak, dan beragam kerajinan lainnya. Kegiatan bazar tersebut berlangsung selama dua hari.
“Pelaksanaan bazar kami gelar selama dua hari dan mendapat antusiasme yang sangat tinggi dari masyarakat,” jelasnya.
Kehadiran pelaku usaha dalam bazar ini turut membuka peluang perluasan pasar bagi produk lokal ke masyarakat yang lebih luas.
Riany juga mendorong UMKM dan IKM untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung promosi produk.
“Melalui sosialisasi pemanfaatan AI, diharapkan UMKM dapat lebih mudah dan efektif dalam mempromosikan produk mereka,” ujarnya.
Pemanfaatan AI dinilai dapat membantu pelaku usaha dalam pembuatan materi promosi secara lebih efisien tanpa membutuhkan banyak sumber daya tambahan.
Disdagin bersama Dekranasda Kota Tanjungpinang terus melakukan pembinaan UMKM dan IKM melalui pemanfaatan teknologi, penguatan promosi, serta pendampingan legalitas usaha.
Sementara itu, pelaku UMKM Handmade, Enjie, memanfaatkan momentum kegiatan ini untuk mengembangkan produk kerajinan menjadi medali peserta.
Sebanyak 1.200 medali berhasil selesai dalam waktu satu bulan, dengan memodifikasi kerajinan berbentuk gonggong.
“Awalnya produk gantungan, kemudian panitia mengusulkan ide pengembangan, dan saya menawarkan untuk menjadikannya medali,” kata Enjie.
Selain memproduksi medali, Enjie juga turut berpartisipasi dalam bazar selama kegiatan berlangsung, yang turut meningkatkan pendapatannya.
“Alhamdulillah cukup baik, karena penjualan tidak sampai malam, pendapatan bisa mencapai sekitar Rp2 juta,” ujarnya. (fik)






