TANJUNGPINANG (HAKA) – Pembangunan monumen Tugu Bahasa di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, bukan sekadar proyek pembangunan fisik semata.
Kepala Dinas PUPP Kepri, Rodi Yantari menegaskan, monumen ini merupakan simbol strategis untuk mengukuhkan posisi Kepri di peta sejarah bangsa.
Menurutnya, Pulau Penyengat menjadi salah satu pusat lahirnya Bahasa Melayu, yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.
“Insya Allah, groundbreaking atau peletakan batu pertama mulai pertengahan Agustus nanti,” ujar Rodi kepada hariankepri.com, kemarin.
Rodi menjelaskan, ada enam dimensi utama yang menjadi tujuan strategis pembangunan tugu ini.
“Di antaranya, sebagai penguatan identitas nasional dan kebahasaan,” sebutnya.
Melalui Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, Tugu Bahasa menjadi penegasan tradisi intelektual Melayu di wilayah ini.
“Ini penting untuk memperkuat kebanggaan nasional dan jati diri bangsa,” jelasnya.
Dimensi selanjutnya adalah pelestarian warisan budaya dan pengembangan pariwisata berbasis sejarah (edutourism) sebagai daya tarik utama bagi wisatawan.
Rodi menambahkan, proyek ini berfungsi sebagai diplomasi budaya di Asia Tenggara untuk memperkuat posisi Indonesia dalam peradaban Melayu dunia.
“Selain sebagai media edukasi publik dan literasi, kehadiran tugu ini menjadi pendorong ekonomi lokal bagi UMKM,” tuturnya.
Secara kebijakan, pembangunan ini selaras dengan UU Pemajuan Kebudayaan dan UU tentang Bahasa, Bendera, dan Lambang Negara.
“Intinya, Tugu Bahasa ini adalah pernyataan politik-kebudayaan bahwa Tanjungpinang dan Kepri adalah simpul penting lahirnya Bahasa Indonesia,” pungkas Rodi. (sih)





