BATAM (HAKA) – Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, memaparkan strategi dan capaian Pemko Batam, dalam menekan tingkat pengangguran terbuka kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Amsakar menyebut, bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Batam menunjukkan tren positif, yakni meningkat dari 6,69 persen pada 2024 menjadi 6,76 persen pada 2025.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, angka kemiskinan di Batam juga turun signifikan, dari 4,85 persen menjadi 3,81 persen pada tahun 2025.
“Tingkat pengangguran terbuka di Batam turut menurun, dari angka 7,68 persen menjadi 7,57 persen,” ujar Amsakar.
Meskipun angka pengangguran menurun, Amsakar menegaskan, bahwa arus migrasi penduduk yang tinggi menjadi tantangan utama bagi Pemerintah Kota Batam saat ini.
Batam menduduki posisi sebagai salah satu dari lima daerah dengan tingkat migrasi tertinggi di Indonesia, bersanding dengan kota besar lainnya seperti Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Bandung.
Berdasarkan data tahun 2025, sebanyak 49.009 jiwa penduduk baru masuk ke Batam, sementara jumlah penduduk yang keluar hanya mencapai 31.353 jiwa.
“Terdapat selisih 17.656 jiwa pendatang baru. Fenomena ini menantang kami dalam menjaga keseimbangan antara ketersediaan lapangan kerja dengan jumlah pencari kerja,” jelasnya.
Persepsi masyarakat, bahwa kota ini menjanjikan peluang ekonomi dan lapangan kerja yang besar memicu tingginya minat pendatang ke Batam.
Kondisi ini menimbulkan sejumlah persoalan, mulai dari kesenjangan kompetensi tenaga kerja, hingga persaingan antara tenaga kerja lokal dan pendatang baru.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Pemko Batam menjalankan tiga program utama, yaitu perencanaan tenaga kerja, pelatihan peningkatan produktivitas, serta penempatan tenaga kerja.
Amsakar optimis, melalui kolaborasi dengan lembaga pelatihan dan dunia industri, Batam mampu meningkatkan daya saing tenaga kerja di tengah derasnya arus migrasi tersebut. (sih)





