BINTAN (HAKA) – Tim SAR gabungan terus menyisir perairan Desa Berakit, Teluk Sebong, untuk mencari seorang nelayan yang hilang misterius.
Hingga memasuki hari ketiga, Kamis (9/1/2026), tim pencari belum melihat tanda-tanda keberadaan pria berusia 50 tahun tersebut.
Sekretaris BPBD Bintan, Agus Ariyadi, mengonfirmasi bahwa korban bernama Top, warga asli Kampung Panglong.
Untuk mempercepat proses, tim gabungan membagi kekuatan ke beberapa titik strategis, menggunakan perahu karet dan pompong milik warga.
“Satu tim menyusuri lekukan sungai di kawasan hutan mangrove, sementara tim lainnya mengitari pulau-pulau kecil depan Desa Berakit,” jelasnya.
Ia menyebut, BPBD sebenarnya mencoba memaksimalkan teknologi dengan menerbangkan drone pemantau.
Namun, angin kencang yang menerjang kawasan tersebut, menyulitkan operator dalam mengendalikan pesawat tanpa awak itu.
“Kami hanya mampu menerbangkan drone selama 30 menit saja,” tambah Ariyadi.
Saat ini, Basarnas Tanjungpinang telah mendirikan kamp darurat di Kampung Panglong, sebagai pusat koordinasi.
Sebagian anggota SAR memilih bermalam di lokasi agar bisa bergerak lebih cepat saat fajar tiba.
Selain itu, BPBD menyiagakan personel di posko tambahan kawasan Wisata Dugong, Pantai Trikora.
Para petugas di titik kumpul ini bertugas memantau dan memperbarui informasi sekecil apa pun dari lapangan.
“Kami berharap tim segera menemukan Top. Operasi besar ini melibatkan sinergi dari TNI-Polri, Dinsos, Tagana, hingga warga desa,” tegasnya.
Ariyadi menceritakan bahwa Top memulai aktivitasnya pada Senin (5/1/2026) siang. Ia mendayung sampan miliknya ke arah hutan bakau untuk mencari kepiting.
Namun, rasa cemas mulai menyelimuti keluarga karena Top tak kunjung menginjakkan kaki di rumah hingga larut malam.
Keluarga dan warga sekitar sempat berinisiatif melakukan pencarian mandiri malam itu juga. Tapi, mereka hanya mendapati sampan dan alat tangkap milik korban terapung tanpa pemiliknya. (rul)




