PADA suatu pagi di penghujung September 2025, suara anak-anak kembali memenuhi sebuah gedung sekolah lama di Jalan Borobudur.
​Aktivitas pendidikan kembali menghadirkan kehidupan, pada gedung yang sebelumnya menjadi tempat belajar SMP Negeri 15 Tanjungpinang itu.
​Hari itu, kehidupan baru mulai mengisi ruang-ruang yang sempat kehilangan riuhnya aktivitas sekolah.
​Seratus anak bersiap memulai sesuatu yang belum pernah mereka jalani sebelumnya.
​Mereka bukan sekadar datang untuk mengikuti pelajaran. Mereka akan tinggal, belajar, bertumbuh, dan membangun kehidupan bersama di sana.
​
Sekolah itu bernama Sekolah Rakyat Terintegrasi 33 Tanjungpinang. Pada 30 September 2025, Wagub Kepri Nyanyang Haris Pratamura bersama Wali Kota, Lis Darmansyah, meresmikan sekolah itu.
​Setahun kemudian, 30 September 2026, usia sekolah itu genap satu tahun.
Namun, perjalanan satu tahun itu tidak sepenuhnya berjalan lurus.
​Pekerja harus mengejar penyelesaian gedung. Pengelola harus mendatangkan guru dari berbagai daerah.
​Pengurus sekolah harus meyakinkan anak-anak agar berani tinggal jauh dari rumah.
Dan orang tua harus belajar mempercayakan anak-anak mereka kepada sebuah sistem pendidikan yang masih baru.
​Di sisi lain, para pekerja juga masih harus menyelesaikan pembangunan kawasan sekolah permanen sebagai bagian dari perjalanan panjang.
​Di situlah cerita Sekolah Rakyat Terintegrasi 33 Tanjungpinang menjadi lebih dari sekadar cerita tentang sebuah sekolah.
​Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah gagasan besar mulai mewujud dari sesuatu yang sederhana.
Sebuah gedung lama, seratus anak, Kepala Sekolah, para guru, wali asuh, wali asrama yang hadir dengan dedikasi, serta waktu yang sangat terbatas.
​Setahun berlalu. ​Perlahan, ruang-ruang itu tidak lagi sekadar menjadi ruang kelas.
Ruang tersebut berubah menjadi tempat anak-anak menemukan keberanian, persahabatan, kedisiplinan, dan mimpi-mimpi baru.
​Anak-anak yang dahulu mungkin masih malu untuk berbicara, kini mulai tampil percaya diri.
​Mereka membaca buku dengan antusiasnya, belajar bersama, saling mengenal, dan mulai berani merajut cita-cita setinggi langit.
​Di sanalah sesungguhnya makna investasi pada manusia menemukan bentuknya.
​Karena, membangun daerah tidak hanya tentang membangun gedung dan infrastruktur, tetapi juga tentang membangun manusia yang akan mengisi dan melanjutkan masa depan daerah tersebut.
​Satu tahun mungkin belum panjang. Bahkan, perjalanan ini masih sangat jauh.
Pemerintah dan pengelola berjuang merintis, membangun, dan menata lingkungan belajar.
​Ke depan, tantangan yang lebih besar adalah menjaga kualitas pendidikan, memperkuat karakter, serta memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara setara.
​Satu tahun adalah permulaan.
Dari sebuah gedung lama, sebuah rumah harapan bagi anak bangsa telah tumbuh.
​Dan dari Tanjungpinang, harapan itu kini terus menyala. Cerdas Bersama, Tumbuh Setara.
Selamat 1 Tahun Sekolah Rakyat Terintegrasi 33 Tanjungpinang. Terus tumbuh, terus belajar, dan terus menyalakan harapan untuk masa depan. (fik)




